Minggu, 03 Mei 2015

seperti mereka



Merasa iri akan sesuatu sedang melandaku.

Menjadi orang yang bisa menuangkan segala ekspresi kegembiraan ekspresi kesedihan dan dibuat apik dalam sebuah tulisan. Sebuah kombinasi abjad.

Itu mauku.

Ini bukan tentang demam karena kemaren. Yaps, 2 Mei 2015, di Universitas Lampung kedatangan penulis muda asal Bandar Harapan, Lampung Tengah.

Cerita sedikit ya :-D

Kak Azhar Nurun Ala dan sang istri Mba Vidia Nuarista mengisi acara di salah satu lembaga kampus di Unila.
Buku-buku karya Kak Azhar sengaja ku bawa, dan alhasil dapet tandatangannya. Seneng.

Ja(t)uh, Tuhan Maha Romantis, Seribu Wajah ayah

Sesi foto dengan keduanya dimulai, harus nunggu lama dan hasilnya cukup memuaskan.

                                                Tukang poto : Nafilata Pd

Ada juga yang foto pakek hape Kak Azhar dan di upload loh :-D
Kurang, masih kurang.
Mau lagi.

Sekian.....


Jelas bukan. Hanya saja, dengan datangnya kakak satu itu, keinginan untuk menjadi seperti mereka semakin memanas.

Bagaimana menjadi mereka? Apa mereka juga pernah merasa ingin menjadi seseorang yang mereka mau? Tidak, bukan menjadi tapi ingin seperti. Dengan keahlian masing-masing, dengan tulisan masing-masing.

Ah, demam ini begitu menggigil.

Mereka begitu dingin dalam merangkai kata. Oh... kenapa begitu mudah bagi mereka?




Kamis, 02 April 2015

Kedahsyatan Semester Ini

Satu bulan genap aku menghabiskan semester baruku.
Rasanya dahsyat, sangat mengesankan.
Seperti rasa kwitaw rebus di pojok kampusku. Mengenyangkan.

Rasa baru, situasi baru jelas  aku dapatkan. Lelah mengerjakan proyek
** (kp) yang tak kunjung kelar. Lelah dengan matakuliah-matakuliah yang tak juga mengerti, tak juga memahami perasaan gadis ini. Dan, lelah akan beban kehidupan (aselole).

Mereka adalah trending topic di hidupku.

Ada yang bilang, dan katanya "wajar lah namanya semester tua", banyak tugas, banyak proyek.
Loh.
Semester boleh tua tapi muka?kalian percaya? Kami begitu menawan.

Matakuliah semester ini tidak banyak yang aku ambil. Hanya lima matakuliah beserta wajib dan sunahnya. Yapp, kalian tahu, banyak kosongnya, aseek kan? Gak full kuliah setiap hari.

Sedihnya.

Berdasarkan grafik perasaan mahasiswa, di semester ini tidak ada keseimbangan antara titik x dan titik y, sehingga grafik yang ditimbulkan tidak berbanding lurus. Harusnya x=y, akan tetapi nyatanya tidak.

Begini jelasnya.
Matakuliah yang diambil sedikit, tapi tugas yang ada luar biasa. Mengenyangkan, lagi-lagi kayak kwitew rebus pojok kampus. Super deh. Cocok banget buat bekal di masa depan.

Tapi, apa mau dikata. Hanya, "ya sudahlah, maju jalan!".

Semua pilihan dan keputusan  dibuat sendiri, so tahu donk apa konsekuensinya.

Sudah di tengah, sudah antri, dan bentar lagi bakal dapet tiket kereta gak mungkin mau puter badan.

Mau pergi kan ke tempat yang lain? :-).




Jumat, 20 Maret 2015

Minggu


Matahari menampakkan senyum
Kuning kemerah-merahan, masuk lewat celah jendela kamar
Minggu, akhirnya

Minggu,
apa kabar?
Aku kembali menemuimu
Aku kembali menghabiskan waktu denganmu
Entah siapa yang memulai
Entah siapa yang mengajak
Aku atau kamu, Minggu

Kita asik bercanda
Memberikan waktu rehat untuk kepala
Tetiba hadir pertanyaan yang sama
Siapa yang memulai?
Siapa yang mengajak?
Mungkinkah aku yang menunggu?

Aku rasa begitu

Kamis, 05 Maret 2015

Aku Penulis Sejarah

 

Aku mulai menulis sejarah. Entah sejak kapan, catatan-catatan itu ada di belakangku. Mengikutiku.


Catatan sejarahku tidak kutulis dengan rapi di bukuku. Ingatanku. Aku lebih suka random.


Aku punya hak untuk memutarnya menggunakan rekamanku. Aku juga punya hak untuk memilih bagian mana yang ingin aku putar. Berkali-kali. Atau tidak akan pernah lagi. Dalam urusan ini aku punya hak untuk memilih.


Ahaku pula yang melabeli mereka dengan tulisan tanganku. Sedih. Kecewa. Suka. Bahagia. Itu terserah denganku. Hak penuh bagiku.


Sejarahku bahagia. Inginku. Untuk sampai ke titik itu, aku harus berhati-hati dalam segala hal. Berkata, bertingkah, dan berhati-hati dengan hati. Kita yang menanam butir-butir cinta, benci, iri, dengki, dan semua tanaman hati.


Aku ingin memperindah sejarah hidupku. Tak hanya bingkai tapi rupa. Menyenangkan harus berakhir menyenangkan, bukan menyesatkan.


Kamu tahu maksudku :-)


Yang Terlupakan

Sinar matahari datang pagi ini.
Aku tahu, kamu sudah biasa melihat pancarannya di kelopak matamu. Hujan semalam, gelap semalam sudah terganti.

Kita tahu, matahari punya sejuta sinar. Matahari selalu datang, saat kita masih terlelap dalam mimpi. Aku, kamu, dan matahari. Siapa yang lebih dulu membuka mata?
Matahari datang menyapa, membuat terang.

Aku heran, kenapa ada orang yang membencinya. "Hari ini terlalu panans !."

Ahh, tak kau lihatkah kesungguhan matahari?
Tak kau lihatkah kesabaran matahari?
 Kita ada di antaranya.

Kita tak pernah melihatnya menangis bukan? Matahari pun tak pernah iri meskipun bulan di malam itu selalu di puja.
Bahkan, saat dia sabar menunggu waktu untuk bertemu dengan semesta. Bertemu dengan segala hal di bawah langit.

Tak kau ingatkah saat hujan deras melanda? Matahari akan datang menjadi kebanggaan. Kau mengakuinya bukan? Kau bahkan yang memintanya untuk datang dengan cepat.
Membuat dingin menjadi hangat.

Kau tak lupa, bukan?
Apa kau hanya mengingatnya saat kau perlu?

Sudah kuduga. Aku tahu itu.

Pages