Selasa, 22 April diperingati sebagai
Hari Bumi. Memperingati Hari Bumi bertujuan untuk selalu mengingatkan kepada
kita tentang pentingnya menjaga bumi kita. Menjaganya agar tetap seimbang.
Perayaan Hari Bumi di rayakan dengan
berbagai macam cara. Salah satunya, sore Selasa lalu saya melihat segerombolan
mahasiswa yang melakukan aksi di lampu merah menuju Universitas Lampung untuk
mengingatkan masyarakat tentang Hari Bumi dan juga esensi dari peringatan Hari
Bumi itu sendiri. Terlihat beberapa mahasiswi menggunakan atribut berbentuk
pohon yang dijadikan bando. Ada juga yang membawa miniatur gajah dan bumi.
Mereka hanya sebagian dari banyak
manusia di bumi yang masih peduli dengan kondisi bumi kita. Kesadaran untuk
menjaga keseimbangan kehidupan di bumi semakin hari semakin krisis. Berbagai
teknologi yang tercipta selalu menyelipkan dampak buruk pada kondisi bumi kita.
Alih-alih ingin mempermudah aktivitas manusia untuk memenuhi kebutuhannya, beberapa
teknologi malah dikembangkan tanpa memperhatikan dampaknya pada lingkungan.
Setiap tahun berita pemanasan global
selalu dikabarkan memburuk. Lapisan ozon sudah berlubang di beberapa bagiannya.
Es di kutub mencair lebih cepat. Sampah plastik semakin tak terkendali.
Pencemaran air dan udara semakin tinggi. Pembakaran hutan semakin merajalela.
Alam telah memberikan banyak
keuntungan bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Namun, sayangnya masih
banyak manusia yang tak tahu terimakasih. Sebagian besar masyarakat masih
menggunakan teknologi-teknologi yang memerlukan bahan bakar ataupun sumber daya
yang sulit dan tidak dapat diperbaharui. Misalnya, motor dan mobil.
Mengingat sumber daya yang digunakan
dapat habis dan butuh waktu lama untuk mendapatkannya kembali, maka kini mulai
dikembangkan teknologi ramah lingkungan. Teknologi seperti ini diharapkan bisa
meminimalkan dampak-dampak buruk terhadap lingkungan. Dan mengurangi penggunaan
bahan bakar fosil.
Di Indonesia sendiri telah dikenalkan
beberapa teknologi ramah lingkungan. Diantaranya yaitu, mobil listrik, sepeda,
sepeda listrik, dan solar cell. Meskipun begitu, untuk penggunaannya
sendiri masih kurang oleh masyarakat.
Sebagai negara yang berada di garis
khatulistiwa, Indonesia mempunyai sumber energi cahaya matahari yang melimpah.
Hal ini memberikan peluang besar bagi Indonesia untuk mengembangkan teknologi solar
cell.
Desa Pahawang menjadi salah satu
tempat di Indonesia yang telah memanfaatkan teknologi ini. Hampir seluruh
rumah-rumah warga dipasangi oleh panel surya. Benda berbentuk kotak yang
berwarna hitam pada permukaan atasnya ini dipasangkan di atap-atap rumah dan
masjid. Ada yang memasang satu, dua, bahkan lebih dari tiga.
Ukuran panel surya yang digunakan
tidak terlalu besar. Desa Pahawang ini memang jauh dari pusat kota. Dibutuhkan
waktu sekitar 1 jam 30 menit dari pusat kota
untuk sampai ke sini. Bukan jalan darat saja yang harus ditempuh, kita
harus menyebrang dengan perahu untuk sampai ke Pulau Pahawang. Mungkin jalur
tempuh ini yang mendasari dipilihnya penggunaan teknologi solar cell
sebagai alat untuk mendapatkan energi listrik. Melalui alat ini, energi
matahari dikonversi menjadi energi listrik.
Biasanya di siang hari warga tidak
akan menggunakan aliran listrik yang dikumpulkan dari panel surya. Mereka hanya
menggunakannya untuk keperluan malam hari. Mulai pukul 5 sore sampai subuh.
Hanya ada segelintir warga yang menggunakannya untuk kebutuhan disiang hari.
Biasanya mereka yang berjualan es, tetap akan menggunakan aliran listriknya
sepanjang hari.
Penggunaan teknologi solar cell di
Indoesia masih perlu ditingkatkan lagi. Saat ini penggunaannya masih sebatas
untuk daerah-daerah yang memang tidak terjangkau oleh petugas PLN untuk
memasang tiang-tiang listrik. Di daerah perkotaan, penggunaannya lebih banyak
pada lampu lalu lintas. Bahkan untuk lampu taman saja belum begitu dikembangkan
untuk menggunakan teknologi solar cell.
Kebutuhan daya listrik yang tinggi di
daerah perkotaan ataupun daerah-daerah tempat tinggal disekitar perkotaan masih
dianggap belum bisa digantikan dengan teknologi solar cell. Padahal saat
ini, negara maju seperti Jepang pun tengah mengembangkan teknologi solar
cell. Semoga teknologi ramah lingkungan seperti ini lebih dikembangkan lagi
di negri ini.
foto dokumen pribadi.
0 komentar:
Posting Komentar