Kamis, 24 April 2014

Menjaga Bumi dengan Teknologi Ramah Lingkungan

Selasa, 22 April diperingati sebagai Hari Bumi. Memperingati Hari Bumi bertujuan untuk selalu mengingatkan kepada kita tentang pentingnya menjaga bumi kita. Menjaganya agar tetap seimbang.

Perayaan Hari Bumi di rayakan dengan berbagai macam cara. Salah satunya, sore Selasa lalu saya melihat segerombolan mahasiswa yang melakukan aksi di lampu merah menuju Universitas Lampung untuk mengingatkan masyarakat tentang Hari Bumi dan juga esensi dari peringatan Hari Bumi itu sendiri. Terlihat beberapa mahasiswi menggunakan atribut berbentuk pohon yang dijadikan bando. Ada juga yang membawa miniatur gajah dan bumi.

Mereka hanya sebagian dari banyak manusia di bumi yang masih peduli dengan kondisi bumi kita. Kesadaran untuk menjaga keseimbangan kehidupan di bumi semakin hari semakin krisis. Berbagai teknologi yang tercipta selalu menyelipkan dampak buruk pada kondisi bumi kita. Alih-alih ingin mempermudah aktivitas manusia untuk memenuhi kebutuhannya, beberapa teknologi malah dikembangkan tanpa memperhatikan dampaknya pada lingkungan.

Setiap tahun berita pemanasan global selalu dikabarkan memburuk. Lapisan ozon sudah berlubang di beberapa bagiannya. Es di kutub mencair lebih cepat. Sampah plastik semakin tak terkendali. Pencemaran air dan udara semakin tinggi. Pembakaran hutan semakin merajalela.

Alam telah memberikan banyak keuntungan bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Namun, sayangnya masih banyak manusia yang tak tahu terimakasih. Sebagian besar masyarakat masih menggunakan teknologi-teknologi yang memerlukan bahan bakar ataupun sumber daya yang sulit dan tidak dapat diperbaharui. Misalnya, motor dan mobil.

Mengingat sumber daya yang digunakan dapat habis dan butuh waktu lama untuk mendapatkannya kembali, maka kini mulai dikembangkan teknologi ramah lingkungan. Teknologi seperti ini diharapkan bisa meminimalkan dampak-dampak buruk terhadap lingkungan. Dan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil.

Di Indonesia sendiri telah dikenalkan beberapa teknologi ramah lingkungan. Diantaranya yaitu, mobil listrik, sepeda, sepeda listrik, dan solar cell. Meskipun begitu, untuk penggunaannya sendiri masih kurang oleh masyarakat.

Sebagai negara yang berada di garis khatulistiwa, Indonesia mempunyai sumber energi cahaya matahari yang melimpah. Hal ini memberikan peluang besar bagi Indonesia untuk mengembangkan teknologi solar cell.

Desa Pahawang menjadi salah satu tempat di Indonesia yang telah memanfaatkan teknologi ini. Hampir seluruh rumah-rumah warga dipasangi oleh panel surya. Benda berbentuk kotak yang berwarna hitam pada permukaan atasnya ini dipasangkan di atap-atap rumah dan masjid. Ada yang memasang satu, dua, bahkan lebih dari tiga.


Ukuran panel surya yang digunakan tidak terlalu besar. Desa Pahawang ini memang jauh dari pusat kota. Dibutuhkan waktu sekitar 1 jam 30 menit dari pusat kota  untuk sampai ke sini. Bukan jalan darat saja yang harus ditempuh, kita harus menyebrang dengan perahu untuk sampai ke Pulau Pahawang. Mungkin jalur tempuh ini yang mendasari dipilihnya penggunaan teknologi solar cell sebagai alat untuk mendapatkan energi listrik. Melalui alat ini, energi matahari dikonversi menjadi energi listrik.

Biasanya di siang hari warga tidak akan menggunakan aliran listrik yang dikumpulkan dari panel surya. Mereka hanya menggunakannya untuk keperluan malam hari. Mulai pukul 5 sore sampai subuh. Hanya ada segelintir warga yang menggunakannya untuk kebutuhan disiang hari. Biasanya mereka yang berjualan es, tetap akan menggunakan aliran listriknya sepanjang hari.

Penggunaan teknologi solar cell di Indoesia masih perlu ditingkatkan lagi. Saat ini penggunaannya masih sebatas untuk daerah-daerah yang memang tidak terjangkau oleh petugas PLN untuk memasang tiang-tiang listrik. Di daerah perkotaan, penggunaannya lebih banyak pada lampu lalu lintas. Bahkan untuk lampu taman saja belum begitu dikembangkan untuk menggunakan teknologi solar cell.

Kebutuhan daya listrik yang tinggi di daerah perkotaan ataupun daerah-daerah tempat tinggal disekitar perkotaan masih dianggap belum bisa digantikan dengan teknologi solar cell. Padahal saat ini, negara maju seperti Jepang pun tengah mengembangkan teknologi solar cell. Semoga teknologi ramah lingkungan seperti ini lebih dikembangkan lagi di negri ini. 



foto dokumen pribadi.
Categories:

0 komentar:

Posting Komentar

Pages